Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana ... manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi

08 Oktober 2009

Kabuyutan Galunggung : Misteri yang Belum Terpecahkan



Oleh :
Hamdan Arfani
Keturunan ke-13 Batara Gunawisesa


Jika masyarakat Arabia mengenal Mekkah dan Yerusalem sebagai wilayah keramat, maka di tatar Sunda orang mengenal Galunggung sebagai sebuah kabuyutan. Di Mekkah terdapat 'maqom' (bekas petilasan) Ibrahim, maka di Galunggung terdapat 'sanghyang tapak Parahyangan' (bekas petilasan para leluhur awal). Seorang sesepuh bernama Aki Anang alias Raden Anang Daryan Jayadikusumah (1926 -- 2000), pemimpin kelompok kebatinan 'jati Sunda' yang juga keturunan Batara di Galunggung, pernah menuturkan berita turun-temurun kurang lebih sebagai berikut : Bahwasanya pada jaman yang telah lampau sekali, tatar Sunda adalah daerah perairan yang hanya terdapat satu daratan yang tidak terlalu luas (jaman air). Daerah tertinggi dari daratan itu adalah puncak dari sebuah gunung yang kini disebut Galunggung. Pada jaman itu puncak Galunggung adalah daratan tertinggi di tatar Sunda. Pada hari yang diberkahi, tibalah sebuah perahu besar yang memuat banyak sekali manusia dan hewan peliharaan. Sebagian orang-orang perahu itu turun dan tinggal menetap membangun komunitas manusia yang baru. Itulah nenek moyang manusia Sunda sekarang, dan menjadikan Galunggung sebagai sebuah kabuyutan atau 'sanghyang tapak Parahyangan'.

Galunggung sebagai sebuah kabuyutan nyata disebut dalam guratan naskah lontar yang temukan di Ciburuy, Garut, yakni sebuah naskah yang setelah diteliti merupakan naskah lontar tertua di Indonesia dengan kode Kropak 632. Kropak 632 ini diperkirakan dibuat pada tahun 1030-an masehi. Dalam naskah itu diberitakan bahwa Rakeyan Darmasiksa memberikan petuah kepada anak cucunya tentang pegangan hidup, dan bahwa kabuyutan di Galunggung harus dijaga dan dipertahankan agar tidak dikuasai oleh orang asing (Danasasmita, 2006). Pesan Sang Darmasiksa bahwa Galunggung jangan sampai dikuasai orang asing nampaknya mirip dengan larangan bagi kaum non muslim memasuki tanah al Haram di Makkah (tanah larangan di Mekkah, Arab Saudi). Mengapa kabuyutan perlu dijaga, tentulah karena kabuyutan adalah cikal dan simbol jatidiri. Rusaknya kabuyutan Galunggung berarti pudarnya jatidiri dan nilai-nilai asli yang khas dari masyarakat Sunda! Pesan Rakeyan Darmasiksa yang termuat dalam Kropak 632 dibukukan oleh Atja (1929--1991) dan Saleh Danasasmita (1933--1986) dengan judul 'Amanat Galunggung' (diterbitkan oleh Proyek Pengembangan Musium Jawa Barat).

Wibawa Galunggung sebagai sebuah kabuyutan, nampak pula dari petikan 'Babad Tanah Jawi ' dan 'Carita Parahyangan', bahwasanya putra sulung Raja Galuh yang bernama Sempak Waja menjadi Batara (raja pandita) di Galunggung dengan gelar Batara Dangiang Guru, yang melantik raja-raja yang akan berkuasa. Kedudukan Batara di Galunggung yang amat tinggi didukung pula oleh penemuan naskah kuno lain dengan kode Kropak 406, yang isinya menerangkan kurang lebih sekitar tahun 1030-an, datanglah Darmasiksa (Sri Jayabupati) menghadap Batara keturunan Batara Dangiang Guru Sempak Waja, meminta wilayah yang kemudian diberi nama oleh Batara yang berkuasa itu sebagai 'tempat tinggal Sang Karma' (Saunggalah). Darmasiksa atau Sri Jayabupati menurut Carita Parahyangan adalah anak dari Sang Lumahing Winduraja. Sedangkan menurut naskah Pangeran Wangsakerta, Jayabupati adalah Raja Sunda ke-20 yang memerintah tahun 1030--1042 (Ekadjati, 2005).

Demikianlah Galunggung disebut sebagai kabuyutan, sebagai 'sanghyang tapak Parahyangan' yang sangat dikeramatkan dan dijaga oleh para 'raja pandita' (Batara) yang memiliki kekuasaan yang sangat tinggi di atas raja-raja biasa.

Kabuyutan-kabuyutan lain yang muncul terkemudian, yang merupakan 'turunan' dari kabuyutan Galunggung banyak tersebar di wilayah Jawa Barat, diantaranya Denuh, Ciburuy, Sumedang, Linggawangi, dan Panjalu. Seperti halnya di Galunggung, kabuyutan-kabuyutan ini pun dipimpin oleh raja pandita bergelar Batara.

PARA BATARA DI GALUNGGUNG

Membahas kabuyutan Galunggung tidak bisa lepas dari topik para Batara yang mendudukinya. Sejauh ini naskah-naskah kuno paling banyak menyebutkan nama 'Batara Dangiang Guru Sempak Waja' yang menjadi Batara di Galunggung. Batara-batara lain sesudahnya pun kadang disebut dengan menyertakan nama besar Dangiang Guru Sempak Waja, seperti halnya yang tertulis pada Kropak 406 di atas. Dari Prasasti yang ditemukan di Gegerhanjuang, Tasikmalaya, diketahui nama seorang Batara wanita. Mungkin Batara wanita satu-satunya, bernama Batari Hyang, yang pada tahun 1111 mengubah bentuk kebataraan menjadi kerajaan, yaitu Kerajaan Galunggung. Menurut versi lokal, diketahui setidaknya enam orang Batara yang memerintah setelah Batari Hyang tahun 1111, dan tidak diketahui jumlah Batara sebelum masanya. Versi keluarga Anang Daryan menyebutkan sebuah nama Sanghyang Puhun sebagai Raja Pandita Galunggung yang pertama, namun belum disebut Batara. Para Batara penguasa Galunggung yang dikenal masyarakat lokal diantaranya Sanghyang Puhun, Sanghyang Tunggal, Sanghyang Wiroga, Batara Tunggal, Ratu Demung Kamulan, Batara Sakti, Batara Siluman, Batara Sombeng, Batara Sempakwaja, Batara Kuncung Putih, Batara Kawindu, Batara Wastuhayu dan Batari Hyang. Versi keluarga R. Anang Daryan Jayadikusumah menambahkan nama Batara Gunawisesa.

Batara Gunawisesa adalah kakak sulung Batara Kuncung Putih. Adik-adik Batara Gunawisesa dari yang tertua hingga yang termuda adalah Wahyu Cakraningrat (makam di Curug Tujuh Galunggung), Ambu Sarigan (makam di Dinding Ari Galunggung), Ambu Hawuk alias Nyi Mas Garsih (makam di Dinding Ari Galunggung), dan Batara Kuncung Putih (makam di Kawah Galunggung).

Menindaklanjuti informasi dari prasasti Gegerhanjuang bahwasanya pada tahun 1111 masehi terjadi perubahan bentuk pemerintahan dari bentuk kebataraan menjadi kerajaan, tentulah menimbulkan pertanyaan mengenai perbedaan kedua bentuk pemerintahan tersebut. Sejauh ini belum ada rujukan pustaka yang menerangkan hal itu.. Namun menurut hemat Penulis, barangkali bentuk kebataraan dapat dimisalkan dengan bentuk kepausan katolik sekarang ini yang berkedudukan di Roma. Italia, yakni pemerintahan setingkat negara (bahkan lebih dari itu) yang hanya mengurusi keruhanian masyarakat. Kemudian barulah pada tahun 1111 masehi, yakni pada jaman Batari Hyang, Batara tidak hanya mengurusi masalah ruhani masyarakat, namun juga masalah kompleks sehari-hari seperti kesejahteraan rakyat, politik, budaya, dan lain-lain. Dengan demikian, bertambahlah fungsi Batara sejak saat itu, meminjam istilah Islam, yakni sebagai 'ulama' (tokoh ruhani) sekaligus 'umaro' (tokoh birokrat pemerintahan).

JATI SUNDA SEBAGAI ‘AGAMA’ PARA BATARA

Kini muncul sebuah pertanyaan baru. Sebagai tokoh ruhani, apakah 'agama' para Batara ? Menilik berdasar istilah, 'batara' tentulah kental dengan ke-Hinduan yang dibawa dari India. Bisa jadi para Batara di Galunggung beragama Hindu adanya. Tapi bisa jadi pula tidak, meski segala istilah meminjam unsur ke-Hinduan. Danasasmita (2006) dalam tulisannya berjudul 'Batu Nyantra dari Tapos' memberikan informasi yang disepakati oleh Penulis, bahwa agama orang Pajajaran (Sunda, Parahyangan) mengandung tiga unsur utama, yakni 'Hinduisme', 'Budhisme', dan 'Jati Sunda' dengan pemuliaan para leluhur. Dari ketiga unsur tersebut, ternyata 'Jati Sunda' yang paling mendominasi.

Merujuk pada pendapat Saleh Danasasmita (2006) pada tulisan berjudul 'Batu Nyantra dari Tapos' dan 'Hubungan Sri Jayabupati dengan Prasasti Geger Hanjuang, Penulis akan mengulas tentang alam spiritual masyarakat Sunda kuno, terutama para Batara di Galunggung :

Berdasar istilah-istilah dan nama-nama yang terdapat pada prasasti dan naskah kuno lainnya, para ahli berpendapat bahwa agama yang berkembang di tatar Sunda adalah Hindu. Namun setelah diteliti, apabila Hindu yang dianut, maka Hindu orang Sunda berbeda dengan Hindu di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Hindu di tatar Sunda tidak mengenal kasta, yang ada hanyalah feodalisme biasa. Agama Hindu yang agak cocok dengan profil spiritual di tatar Sunda adalah Hindu Tantrayana, yakni perpaduan Hindu dan Budha, namun lebih mengarah ke Budha. Hal ini didukung oleh penemuan "Batu Nyantra" di Tapos, Bogor, pada tahun 1979, yang pada bagian atasnya terdapat goresan serupa gajah, dimana gajah adalah simbol aliran Tantrayana yang lebih mengarah ke Budhiisme. Gambar gajah terdapat pula pada prasasti Kebon Kopi yang ditemukan di Kampung Muara, Cibungbulang, Bogor. Dengan demikian, Budhisme lebih dominan daripada Hinduisme dalam pengertian 'Siwaisme' pada masyarakat tatar Sunda kala itu.

Meminjam ungkapan Danasasmita, meninjau sejarah keagamaan di India, sebenarnya Budhisme dapat disebut sebagai salah satu aliran dalam agama Hindu. Sedangkan, agama Budha sendiri pada dasarnya lebih cenderung merupakan filsafat daripada agama. Ajaran agama Budha pada asal muasalnya tidak mengenal ritual ibadat karena menurut pahamnya keberhasilan mencapai nirwana semata-mata bergantung pada kebenaran karma (perbuatan) belaka.

Apa yang membedakan Budhisme dengan Hinduisme ialah watak Budhisme yang kosmopolit, dapat dianut oleh mereka yang bukan Hindu. Hinduisme pada dasarnya bercorak Aryan, bercorak khas Hindu, kerena menurut doktrin yang mendasarinya, seorang Hindu dilahirkan dalam kasta. Agama Budha tidak mengenal sistem kasta. Agaknya nilai-nilai Budhisme inilah yang menjadi bagian 'irisan' dengan falsafah asli Sunda, yaitu 'Jati Sunda'. Menurut hemat Penulis, bukan Hinduisme atau Budhisme yang mendominasi alam spiritual orang Sunda, terutama para Batara di Galunggung. Hinduisme dan Budhisme hanya memperkaya khasanah spiritual dan bahasa. Logika sejarah mendukung pendapat Penulis, bahwa semenjak filtrasi besar-besaran ajaran Islam dari Cirebon dan Banten abad ke-16 di tatar Sunda, Hinduisme dan Budhisme begitu mudah sirna, sementara 'Jati Sunda' masih tetap ada dan hidup di hati masyarakat Sunda hingga detik ini. Jadi mana yang lebih berurat-berakar : Hinduisme - Budhisme atau 'Jati Sunda' ?

Ajaran 'Jati Sunda' mengajarkan keimanan kepada Tuhan Yang Satu, hidup sederhana (meurih), saling tolong menolong, bersahaja, dan 'kembali ke alam' atau 'back to nature', yakni bahwa alam dan manusia saling memberi sebab - akibat (Suganda, 2006). Ajaran 'Jati Sunda' ini masih nampak kental pada beberapa komunitas masyarakat di wilayah tatar Sunda, diantaranya masyarakat Kampung Naga di Tasikmalaya, Kampung Kuta di Ciamis, Kampung Dukuh dan Kampung Pulo di Garut, Kampung Urug di Bogor, Kampung Ciptarasa - Sirnarasa di Sukabumi, dan Kanekes di Banten. ‘Jati Sunda’, jika dianggap agama, maka agama ini mirip dengan agama Nabi Ibrahim as. Agama Ibrahim belum bernama Islam. Para ulama menyebut agama Ibrahim adalah agama Hanif, yakni agama ‘Jalan Lurus’.

Demikianlah, bahwa banyak istilah Kehinduan yang memperkaya khasanah bahasa di tatar Sunda, khususnya di kabuyutan Galunggung, yang faktanya tak terbantahkan. Begitu pula sumbangan ajaran Hinduisme dan Budhaisme yang memperkaya falsafah asli 'Jati Sunda'. 'Jati Sunda' agaknya sudah ada jauh sebelum Hinduisme - Budhisme dikenal di Galunggung.

'Jati Sunda' mungkinkah 'agama' yang dibawa para Parahyangan (leluhur awal) yang merapat di Galunggung pada jaman air seperti cerita yang ditutur oleh mendiang Aki Anang ? Benarkah cerita Aki Anang tentang hal ikhwal karuhun Sunda di Galunggung ? Kita semua masih menunggu jawaban ilmiah dari para ahli.

Kabuyutan Galunggung : masih misteri yang belum terpecahkan ...

TAMBAHAN :
SILSILAH AKI ANANG (R. ANANG DARYAN JAYADIKUSUMAH) KE BATARA DI GALUNGGUNG


R. Anang Daryan Jayadikusumah (Aki Anang) adalah putra dari R. Waspian Sacakusumah bin Altasan Sacakusumah dan R. Surkiah Wiarsih binti Suyatma Adiwijaya.

Adapun silsilah dari garis ayah adalah sebagai berikut : R. Anang Daryan Jayadikusumah bin Waspian Sacakusumah bin Altasan Sacakusumah bin Adijaya Sacakusumah bin Sunarya Sacakusumah bin Dalem Rana Yudakusumah bin Dalem Paringga Yudakusumah bin Dalem Singaparna. Dalem Singaparna menikah dengan Dewi Manasih binti Prabu Tajiwulung bin Susuhunan Alengga Galunggung bin Batara Gunawisesa.

Silsilah dari garis ibu sebagai berikut : Surkiah Wiarsih (Ibu) binti Suyatma Adiwijaya bin Karta Adiwijaya bin Arpan Adiwijaya. Arpan Adiwijaya memiliki Ibu bernama Ambu Lembok alias Dewi Arsih binti Dalem Pasarean bin Dalem Brajagalong bin Dalem Pakuluran bin Dalem Jamsu bin Dalem Heulang Mangkak bin Prabu Linggawestu bin Prabu Syech Jiwa Raga dst.




DAFTAR PUSTAKA

Suganda, Her. 2006. 'Kampung Naga Mempertahankan Tradisi'. Penerbit PT Kiblat Buku Utama. Bandung

Danasasmita, Saleh. 2006. 'Hubungan antara Sri Jayabupati dan Prasasti Gegerhanjuang' dalam 'Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda' - Kumpulan makalah. Pusat Studi Sunda. Bandung

Danasismita, Saleh. 2006. Batu Nyantra dari Tapos' dalam 'Mencari Gerbang Pakuan dan Kajian Lainnya Mengenai Budaya Sunda' - Kumpulan makalah. Pusat Studi Sunda. Bandung

Ekadjati, Edi. 2005. 'Polemik Naskah Pangeran Wangsakerta'. Pustaka Jaya. Jakarta

http://hamdanarfani.blogspot.com

30 komentar:

  1. sangat menarik,sy br tahu ttg ajaran "JATI SUNDA" dan sungguh masuk akal,ya jejak agama hindu dan budha ditatar sunda telah lama sirna tp keyakinan tentang sundaisme msh bertahan kuat,krn mungkin ini diajarkan tanpa sengaja oleh para orang tua.

    BalasHapus
  2. Mari kita telusuri Agama awal Bangsa kita dulu yang penuh dengan kearifan dan akhlak budi luhur

    BalasHapus
  3. Namun amat disayangkan,para penganut jati sunda sendiri sering mendapat diskriminasi,baik oleh masyarakat lain, ulama, maupun pemerintah sendiri, bahkan mereka terasingkan dan dianggap aliran sesat. sungguh memprihatinkan agama yang sudah ada sebelum,datangnya agama "asing" yang sekarang diakui oleh negara, malah tersisihkan,

    BalasHapus
  4. Tahukah anda apa artinya seseorang jika mempunyai tanda SB berwarna merah di pergelangan tangan kirinya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. maksudnya tanda lahir berhuruf "SB" begitu ?

      Hapus
  5. Penuturan mas hamdan itu berdasarkan ilmiah, tapi adalagi yang membingungkan saya ketika waktu itu saya dengar cerita berdasarkan versi spiritual, atau mungkin analisa saya ada perbedaan waktu antara apa yang saya dengan secara spiritual dan berdasarkan penelitian ilmiah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    2. nformasi yang didapat secara spiritual bisa saja. Sepengetahuan sy dengan cara spiritual ini ada 2 macam, yaitu berdasar "bisikan" mahluk gaib dan petunjuk langsung dari Yang Maha Tahu. Celaka kalau "pembisik"nya ngawur atau ngibul ... di kalangan spiritualis soal "pembisik" yg suka ngibul ini bukan barang baru, oleh karena itu hrs bs membedakan mana yg jujur mana yg ngawur. Biasanya pengetahuan model begini sifatnya tidak khas, alias tetap ada benang merahnya dengan pengetahuan yg sudah ada.

      Hapus
  6. jalan jalan ke galunggung yu..mantap

    BalasHapus
  7. hatur nuhun pisan kang,,anu tos masihan faham para karuhun galunggung,,

    BalasHapus
  8. Nilik2 Sapertosna umat nabi Nuh nu dina Parahu teu sakaligus di Pasir Judi, tapi nungtutan. Tapi duka teu acan aya buktos. Wallahu alam.

    BalasHapus
  9. Hatur nuhun. Kang.

    Tna carita d luhur urang sallaku. Urang sunda jd apal tmana asal urang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Isin pami urang ngangkeun urang sunda, pami urang tatar sunda mah langkung payus.. pon kitu pami urang ngangkeun urang islam..sunda kalih islam kagungan sarerea.. cag.. tabe pun ampun paralun..

      Hapus
  10. terima kasih buat ilmunya, membantu saya memahami sedikit dari silsilah ibu saya yang orang tasikmalaya asli.

    BalasHapus
  11. mohon maaf, sekiranya bisa minta tolong, sudah lama sebenarnya saya ingin mengetahui apa makna dari kuncung putih, apakah itu termasuk ciri2 suatu golongan tertentu (misalnya bocah bajang di dieng) ? terimakasih atas informasinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makna dr kuncung putih.. kuncung adalah berdiri tegak, atau lurus, sedangkan putih dlm artian hati kita hrs sll bersih..

      Hapus
  12. Asalamualaikum....nuhun ka salira nu parantos nyerat/ngaguratkeun hiji pepeling...kaula asli urg sunda...teu ngaraos nampik kana ieu wejangan tinu gaduh blog/artikel....kaula ngiring prihatin lamun nepi ka ajaran karuhun nepi ka nga hiang deui siga tapak tilas para karuhun sorangan....tp kaula yakin...hiji mangsa bakal aya nu nyampurnakeun ieu lalampahan jelema ..khususna urg sunda....da kaula pribadi mah ngangge anggean/ageman URANG SUNDA LEUNGIT SUNDA NA....

    BalasHapus
  13. alhamdulillah saya pernah melaksanakan napak tilas sampai puncak galunggung di tahun 1990 pada bulan Agustus 1990. Andhi Udie Salim.

    BalasHapus
  14. Mugia rahayu jatnika waluya.. Gusti Nu Agung teu samata mata nyieun gunung jeung sagara.. mun teu aya manfaat pikeun hirup jeung huripna manusa.. tabe pun.. panuhun kanggo apungan sajarah galunggung.. nu kudu di punjung pon kitu sagara kudu di puja.. cag.. sampuraasun..

    BalasHapus
  15. saya baru belajar baca" sejarah, tentang apa saja yang menyangkut pajajaraan, dan kalau bisa kasih masukkan ,,,saya mesti baca dari mana ya? dan artikel nya sangat bermanfaat kang, salam saudara dari dusun cinyenang sidamulya cisaga ciamis

    BalasHapus
  16. Sampurasun..hatur nuhun ka dulur sadayana..tos nyaangan kanu di aos ku abdi..

    BalasHapus
  17. Anonim asli tasikJumat, 07 April, 2017

    Ass..ngiring informasi kanggo kang Arfan.kaleureusan abdi gaduh wargi damelana kuncen makam,nyaeta salah sahijina nyebatkan eyang Prabu Jiwa Raga,manawi aya patalina sareung kasepuhan Galunggung,diantos infona.wasallam

    BalasHapus
  18. Menarik kang, terlepas dari ada tidaknya atau kajian mendalamnya topik kabuyutan galunggung ini menarik sekali bila sejarahnya kita gali, ijin disadur plus sumbernya di www.fenomenamisteri.com

    BalasHapus
  19. Agama itu tetap hanya ada satu, yaitu islam..

    Selain daripada itu hanyalah budaya..
    Nabi Ibrahim, Nabi Nuh, bahkan sampai Nabi Adam, mereka semua beragama islam..

    BalasHapus
  20. Mari buktikan kembali bahwa org galunggung sangat berprestasi bukan hanya atlet2 ny tapi juga masarakat nya yg kreatif seperti di rajapolah ini
    Berprestasi namun rendah hati membuat warga tasik malaya seperti sama daripada rakyat lain nya yg ada di negeri ini

    Pemimpin sejati di negeri ini akan muncul dengan sendirinya saat waktu nya tiba

    Sampurasun.

    BalasHapus
  21. Mari buktikan kembali bahwa org galunggung sangat berprestasi bukan hanya atlet2 ny tapi juga masarakat nya yg kreatif seperti di rajapolah ini
    Berprestasi namun rendah hati membuat warga tasik malaya seperti sama daripada rakyat lain nya yg ada di negeri ini

    Pemimpin sejati di negeri ini akan muncul dengan sendirinya saat waktu nya tiba

    Sampurasun.

    BalasHapus

Silahkan tulis komentar pada kotak di bawah ini. Jangan lupa tulis kota asal Anda...